Sistem informasi akuntansi atau sering disebut
dengan istilah sistem akuntansi merupakan sistem yang digunakan untuk
mengumpulkan dan mengolah transaksi untuk kemudian disampaikan ke pihak yang
berkepentingan. Suatu organisasi bisnis membutuhkan suatu metode dan prosedur
untuk menjamin informasi keuangan yang disajikan berkualitas, tepat waktu,
akurat dan dapat diandalkan maka dari itu memerlukam sistem akuntansi yang
disesuiakan dengan pengetahuan dan kebutuhan pemakai agar dapat digunakan
sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Sistem akuntansi juga
mencakup dokumen yang memberikan bukti terjadinya peristiwa atau transaksi dan
catatan-catatan seperti daftar saldo, neraca lajur buku besar, buku pembantu
dan laporan keuangan. Sistem akuntansi yang efisien di dasarkan pada
prinsif-prinsif antara lain, efektivitas biaya (manfaat lebih besar daripada
biaya), output yang bermanfaat (output yang dihasilkan harus berguna), dan
flesibilitas ( sistem tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan memberikan sumbangan
kepada tujuan individu dan organisasi). Sistem akuntasi yang baik harus
direncanakan dengan hati-hati, dirancang , dipasang, dikelola dan disesuiakan
dengan kondisi yang ada dan yang akan terjadi. Tahapan dalam pengembangan
sistem akuntansi umumnya terdiri dari empat yaitu:
a. Analisis sistem yang bertujuan untuk
menentukaninformasi yang dibutuhkan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam
rangka mencapai tujuan organisasi, yang meliputi sumber informasi,
kelemahan-kelemahan dalam prosedur pencatatan dan metode-metode pemrosesan data
yang telah ada.
b. Perancangan sistem yang baru harus
dibangun dari bawah dengan tahapan sebagai berikut, merancang formulir dan
dokumen, memilih metode dan prosedur, menyusun uraian kerja, menyatukan
pengendalian, membuat format laporan, memilih peralatan yang
diperlukan.perancang sistem harus memiliki pengetahuan tentang prinsif-prinsif
dasar sistem akuntasi.
c. Implementasi implementasi sistem
yang baru mengharuskan bahwa dokumen,prosedur, dan perangkat keras telah
terpasang dan berjalan dengan baik, seluruh karyawan harus diltih dan diawasi
pada periode awal.
d. Tindak lanjut sesudah sistem
terpasang dan berjalan sistem harus di pantau kekurangannya atau kelemahannya
yang terjadi.
Pengendalian
internal merupakan aspek kunci dalam analisis sistem, desin sistem dan
implementasi sistem dalam perusahaan. Pengendalian internal digunakan oleh
perusahaan sebagai pedoman dalam menjalankan kegiatan atau operasi perusahaan.
Tujuan pengendalian internal untuk menjamin agar manajemen perusahaan dapat
mencapai tujuan perusahaan sesui dengan yang ditetapkan, menghasilkan laporan
keuangan yang dapat dipercaya, mematuhi hukum dan peraturan yang belaku.
Pengendalian internal juga dapat
mencegah kerugian dan pemborosan pengelolaan sumber daya perusahaan, dapat
menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan dan manajemen, serta
menyediakan informasi sebagai pedoman dalam perencanaan.
Adapun element-element dalam
pengendalian internal antara lain:
a. Lingkungan pengendalian mencakup
sikap para manajemen dan karyawan terhadap pentingnya pengendalian yang ada di
dalam organisasi. Lingkungan pengendalian sangat penting karena merupakan dasar
keefektifan unsur-unsur pengendalian.
b. Penilaian resiko, adalah kemampuan
menilai resiko yang mungkin terjadinya
yang tidak diharapkan organisasi sehingga resiko tersebut dapat di
kurangi atau diatasi.
c. Aktivitas pengendalian dapat
digolongkan sebagai kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan, review
terhadap kinerja, pengolahan informasi, pengendalian fisik, dan pemisahan
tugas.
d. Informasi dan komunikasi informasi
yang berasal dari internal dan ekseternal perusahaan diperlukan sebagai pedoman
operasional, untuk menilai standar eksternal, hukum, peraturan, yang
berpengaruh pada pengambilan keputusan dan pelaporan.
e. Monitoring atau pemantauan terhadap
sistem pengendalian internal akan menemukan kekurangan dan meningkatkan
efektifitas pengendalian.
Apabila ke lima element ini ada pada
suatu organisasi maka tujuan pengendalian internal dapat dicapai dengan lebih
baik.
Salah satu contoh akibat jeleknya
pengendalian internal dalam perusahaan adalah adanya kesalahan dalam
pengambilan keputusan oleh manajemen yang mengakibatkan tidak tercapainya
tujuan perusahaan. Seperti halnya manajemen memutuskan untuk memproduksi barang
yang tidak laku di pasaran yang menyebabkan perusahaan mengalami kerugian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar